Postingan

A bitj called Halimah

Gambar
            Kepada orang yang merasa tulisan ini ditujukan untuknya, jangan senyum-senyum dulu. Karena saya berkali-kali menghapus paragraf pertama ini, bingung memilih kalimat apa yang tepat untuk mengawali post yang selalu gagal saya rampungkan karena............... saya sudah menangis bahkan sebelum memulai satu huruf pun.             Saat tulisan ini rampung dan muncul di layar handphone kamu –yang mungkin sekarang sedang celingukan karena pertama kali transit di Halim Perdanakusuma– saya hadiahkan ini agar kamu tidak repot-repot mencari bacaan sembari menunggu pesawatmu. Ingusnya dilap dulu, baru lanjutin baca, oke? Hahahahaha.             Ini adalah tulisan kecil dari seorang temanmu yang manja dan cengeng. Dari seorang temanmu yang berterimakasih telah diterima apa adanya. Dari seorang temanmu yang membuat or...

Senandung Perempuan Buta Nada

Masih terekam jelas rendah suaramu malam itu Kau bercerita tentang lagu yang baru-baru ini mencuri spasi di kepalamu Bergumul merumahkan liriknya di sana Lalu, aku yang takut tersaingi ini diam-diam cemburu Begitu lah jarak hidup sebagai sesuatu yang mengerikan Aku yang hanya bisa kaudengar suaranya, tak mau tenggelam dikubur senandung-senandung pengantar tidurmu Dengan petikan paling sederhana dan suara yang melompati temponya Kukirimi kau lagu yang sama Ternyata cemburu adalah sebuah keberanian Hingga perempuan buta nada ini belajar bernyanyi Lagu yang diputar kekasihnya berkali-kali Aku tak perlu melihat nada untuk menyampaikan rindu Seperti aku selama ini tak perlu melihat engkau untuk memberitahumu Walau bisik-bisik; aku menyayangimu Aku Setakut itu Akan luput dari ingatan seorang Kamu. Pekanbaru, satu Senin pagi yang sendu.

Untuk yang Dilepas dan Melepaskan

Ini bukan ditujukan untuk yang sedang ditinggalkan, atau yang meninggalkan. Tapi untuk kita yang sedang sulit menerima pilihan dan keputusan seseorang, dan untuk kita yang sedang merasa salah telah memilih sebuah keputusan atas seseorang; untuk jujur dan pergi ketika sadar akan banyak luka yang timbul jika tetap tinggal. Keputusan untuk memilih terlihat kejam daripada berlama-lama memanjakan orang lain dalam kebohongan. Tidak ada rasa nyaman yang timbul dari sebuah paksaan.                 Untuk yang sedang sedih hatinya, berbagi lah pada seseorang yang sangat kau percaya. Tak perlu minta pendapat, karena hati yang sedih tidak butuh nasihat, ia hanya butuh dikosongkan dari hal-hal yang membuatmu begah; lewat mulutmu, lewat jemarimu. Bercerita lah kepada sahabatmu, tak perlu menjadi kuat hari ini, menangis lah ketika terasa sakit, tertawa lah ketika mengingat hal-hal manis. Menulis lah sebagai anonim jika k...

Dia minta saya menulis, lagi

                Aku lahir sebagai perempuan banyak tanya, dan entah mengapa semesta –yang sungguh lucu ini– mempertemukanku dengan seorang ‘kamu’ yang hanya sanggup menjawab seperdelapan dari pertanyaan-pertanyaan itu, yang separuhnya bahkan kamu sendiri tidak mengerti.                 Kemudian seperti yang kamu tau, aku dititipkan anugerah ngomel-ngomel setiap kamu tidak menggubris pertanyaanku; bersamaan dengan –si lucu– semesta yang lagi-lagi menitipkan seorang ‘kamu’ yang tenang dan diam saja sampai aku sadar; aku nyaris separuh gila.                 Dan yah, aku diciptakan dengan kemampuan menggendut dengan mudahnya walaupun makan sedikit. Dan, Tuhan ciptakan kamu yang makan banyak tapi tidak gendut-gendut. Hingga sang –lucu– semesta mendekatkan kita, agar perutmu dan perutku menyat...

Senja Kala Itu

               Aku senang mengingat senja yang ditelan laut kala itu, di matamu kunikmati biasnya. Seperti ingin ikut tenggelam bersama kedamaiannya, berjalan-jalan di taman terumbu; menggandeng tanganmu. Tapi apa daya kita yang hanya bisa menyaksikannya pelan-pelan lesap, disedot laut yang dingin dan gelap. Tapi tak apa, sayangku. Senja kita takkan mati beku, ia bertahan untuk muda-mudi yang ingin mencium kekasihnya; di kala senja, hingga tua. Ia bertahan untuk orang-orang tua yang tak mau kalah ingin saling mendekap kekasihnya; di kala senja, hingga salah satu dari mereka mati dan bereinkarnasi sebagai cahaya matahari, memeluk kekasihnya sebagai senja.                Senja tahu kehadirannya dinanti-nanti, congkak ia menari di panggung solo yang Tuhan fasilitasi. Usil memantulkan cahayanya lewat cermin cair tak jauh dari bibir pantai, tak lama wajahku menyemu; bercampur lah...

Dear Putri

Gambar
     "We are growing up together!", kata-kata standar barusan cukup bikin gue ngerasa kayak 'Oh my God iya juga ya...'. Kata-kata itu keluar dari sebuah gas beracun yang mengendap di paralon-paralon tua belakang rumah. GA DENG. Kata-kata itu Putri yang bilang sih dua hari lalu. Emang sih ya, apapun yang dijalani dengan menikmatinya tuh ga kerasa udah jauh aja. Buset, kita bertumbuh bersama, Put! Kayak tete!       Dimulai dari dada yang masih datar-datar aja cuma ada item-item gitu dikit kalo keliling komplek pake singlet doang mah ga nyeplak . Aman. as flat as our lyf before we finally met. Yha, Eno kecil adalah anak yang sungguh individualis. Bukan, bukannya ga pengen punya temen terus berbagi kebahagiaan dan membagi penderitaan. Tapi emang tiap berteman rasanya aneh gitu, kayak nggak nyambung. Yaelah Noque masih sd aja belagu amat.       Terus kuncup kecil payudara mulai berkembang dalam persiapan untuk pertumbuhan saluran. Ini tuh kaya ki...

Untuk Yang Senyumannya Menjajah

     Dua anak manusia duduk bersisian; dibatasi sekotak martabak cokelat yang mulai dingin dan milkshake  cokelat yang mulai tawar karena esnya mencair. Iya, sepaket kebahagiaan kecil yang kutagih melulu darimu waktu itu akhirnya kautebus suatu sore. Suatu sore ketika selai cokelat pada tiap gigitanku tertahan di kerongkongan, seperti menolak untuk tertelan; terlalu manis. Suatu sore ketika milkshake kesukaan kita mendadak bagaikan air putih, kutenggak tak mau berhenti, aku bagai predator kehausan. Aku mulai gugup, sepertinya ada yang keliru. Entah aku, entah sore ini. Lalu aku menebak-nebak. Mungkin ini karena sambil aku memangsa sepotong martabak seksi kecoklatan itu, tak sengaja aku ikut melahap remah senyummu yang renyah dan manis. Manis sekali sampai aku kehausan dan kalap menenggak habis segelas susu-kocok-cokelat di sisi tanganmu yang tertungkup.      Kaupamit bersamaan dengan matahari undur diri, aku bingung tempias cahaya keemasan di balik ...