Postingan

Untuk Yang Senyumannya Menjajah

     Dua anak manusia duduk bersisian; dibatasi sekotak martabak cokelat yang mulai dingin dan milkshake  cokelat yang mulai tawar karena esnya mencair. Iya, sepaket kebahagiaan kecil yang kutagih melulu darimu waktu itu akhirnya kautebus suatu sore. Suatu sore ketika selai cokelat pada tiap gigitanku tertahan di kerongkongan, seperti menolak untuk tertelan; terlalu manis. Suatu sore ketika milkshake kesukaan kita mendadak bagaikan air putih, kutenggak tak mau berhenti, aku bagai predator kehausan. Aku mulai gugup, sepertinya ada yang keliru. Entah aku, entah sore ini. Lalu aku menebak-nebak. Mungkin ini karena sambil aku memangsa sepotong martabak seksi kecoklatan itu, tak sengaja aku ikut melahap remah senyummu yang renyah dan manis. Manis sekali sampai aku kehausan dan kalap menenggak habis segelas susu-kocok-cokelat di sisi tanganmu yang tertungkup.      Kaupamit bersamaan dengan matahari undur diri, aku bingung tempias cahaya keemasan di balik ...

Dandelion

Gambar
     Terkepung ilalang, tertutup belukar. Tersingkap angin, disamarkan cahaya. Kau begitu tak terlihat; tanpa kelopak, tanpa warna. Tanpa mahkota, tanpa aroma. Diarak angin bersama debu ke tanah lapang, tak tahu akan tiba di mana.      Dapatkah aku menjadi tetes hujan yang melepaskan dahagamu, jikalau kau mendarat di tanah kering; semacam memberi kehidupan kedua, menunggumu tumbuh dan hidup bahagia. Hingga lagi, angin mengajakmu berkelana.      Dapatkah aku menjadi udara, yang dihela bunga-bunga hutan ke arahmu, kalau-kalau kau terdampar di batuan kapur nan gersang; agar dapat aku mendorongmu sampai terjatuh, terjatuh ke halaman rumah para petani yang subur, sampai kupastikan hidupmu baik-baik saja.      Begitu egoisnya, aku ingin menjadi apapun; menjadi matahari, menjadi sungai, menjadi angin, menjadi rerumputan. Agar bisa menjadi sumber kehidupanmu, menjadi lentera menemani setiap langkahmu. Agar bisa mengarakmu ...

"I Hate Monday" ?

Gambar
     Anak sekolah mana di sini yang tidak membenci hari Senin? Karena Senin adalah semacam "bel" pertanda weekend berakhir dan orang-orang harus kembali ke rutinitas sehari-hari, barangkali kebanyakan kita membenci Senin secara tidak langsung. Terutama bagi anak sekolah, yang harus kembali bangun pagi dan upacara bendera Senin pagi. Di sekolah gue sendiri, setiap Senin jam pulang sekolah jadi mundur satu jam pelajaran, which is ngebikin hari berasa lamaaaaa banget dan bikin super capeeeeeek banget. Bosen juga yang diliat di sekolah itu-itu aja, belum lagi kalo hari itu ada pelajaran guru killer pula, nggak tanggung-tanggung tiga jam pelajaran buat itu pelajaran aja. But it wasn't the most bad moment... Parahnya lagi, ketika guru killer nyuruh ngerjain soal ke depan, nulis di papan tulis, but you don't even know at least what the question meant, sebelum giliran nama Lo dipanggil, Lo bakal kelimpungan nanya orang terpinter di kelas buat jawab pertanyaan yang mungkin Lo ...

Satu Lagi Akhir Pekan

     Rasanya seperti baru kemarin petang, kau mengabariku ketika pulang. Dan aku, menunggu tamu yang kurindukan, yang datang sekali dua pekan. Senja baru saja lepas dan aku mengamati langit dari teras, rautku bersungut-sungut setiap mendung begitu pekat, seperti tak membiarkan aku melihatmu dari dekat. Tapi kemudian angin membawanya pergi, mungkin ia mengerti rasanya rindu setengah mati. Kemudian senyumku seketika mengembang, ketika tahu di depan pintu ada seseorang. Kemudian kau duduk di tempat yang sama, di sudut yang sama seperti sabtu-sabtu sebelumnya; ketika kau masih sahabatku, sampai kau jadi lelakiku. Kemudian kau ceritakan banyak hal, tentang hal-hal yang tak kuketahui sebelumnya. "Paling tidak kita harus tau bagaimana mengucapkan cinta dalam berbagai bahasa", katamu ketika kukatakan aku mencintai sastra. "Aku sayang kamu. Je t'aime. Mahal kita. Ich liebe dich. Te amo. Wo ai ni", kau melanjutkan. Kemudian pembicaraan kita menjalar ke kisah-kisah dunia, ...

Liontin

Gambar
     Tau liontin Locket? Aku cari ini udah lamaaaaaa banget, tapi nggak nemu-nemu sampe frustasi. Banyak sih online shop yang jual beginian, tapi bentuknya nggak sesuai sama yang diharapkan. Lokasinya juga nggak ada yang di dalem kota, jadi kurang puas aja gitu nggak bisa ngeliat wujudnya secara langsung sampe pengiriman. Mau nempah di tukang perhiasan, kayaknya kok ya berat banget nggak sesuai kantong anak SMA. Jadi ya aku cuma bisa nelangsa ngeliatin foto-foto liontin jadul ini. Sampe akhirnya beberapa minggu yang lalu iseng lewat manaaa gitu, pas liat-liat eh nggak sengaja nemu stand liontin. Iseng lagi nyari pendant locket, dan.... DAPET! Rasanya nemuin barang yang lo idam-idamkan itu kaya.... Kaya nemuin barang yang lo idam-idamkan. Gitu. Ini dia penampakannya...      Itu sisi yang satunya masih belom keisi foto <<<ini bukan code>>>. Dari dulu, aku emang suka pake beginian. Dari gelang tiga benang, gelang sepuluh benang yang dijal...

Untuk Penghuni yang Pergi Tanpa Mengunci Pintu

Untuk penghuni yang meninggalkan rumah tanpa mengunci pintu; yang tak tau akan pulang atau tidak. Yang tak tau harus kutunggu atau tidak. Mengingat bagaimana kau pergi terburu-buru; entah kau dikejar-kejar hantu, entah mungkin bagimu rumah ini tak lagi layak huni. Sampai tak sempat kau membawa bekal yang kusiapkan di meja makan; satu tangkap peluk dan segelas kecup yang masih hangat. Sampai hati kau meninggalkannya. Kau begitu terburu-buru, sampai tak sempat menunggu satu lagi tangisku menetas, menetes membasahi punggung tanganmu yang tak mau kulepas. Kau begitu terburu-buru, sampai tak sempat meninggali untukku beberapa peluk yang kelak akan kurindukan. Bahkan kau begitu terburu-buru, sampai tak sempat membaca mataku, sampai tak sempat memastikan apakah aku baik-baik saja atau tidak. Kau meninggalkan ruangan-ruangan, yang di dalamnya aku pernah bahagia karenamu. Ruangan-ruangan, yang di dalamnya masih pekat tercium aromamu. Ruangan yang di dalamnya kau pernah mengulur waktu menyat...

Saya memang gila, kamu tau apa?

Kau pernah menyemai benih; yang ketika kutanya itu apa, kau diam saja. Kau merawatnya dengan tekun, tanpa seorangpun yang dapat mengusiknya. Kau sirami sendirian, kau pupuk dan kau lindungi dengan lenganmu sendiri. Benih itu tumbuh sendirian, di lahan kosong yang kau pagari dengan susah-senangmu, sedih-bahagiamu. Lahan kosong itu, hatiku. Benih itu rupanya tanaman merambat, yang semakin hari semakin tumbuh sehat. Semakin berurat dan menjerat lahanmu, hatiku. Pagi itu, tanamanmu berbunga banyak. Merekah seperti bibir bayi-bayi, mekar seperti senyuman yang para ibu. Wangi seperti di dalam dekap ayah. Hangat seperti rangkul yang kau lingarkan di hatiku. Benih itu, rupanya kebahagiaan. Yang berbunga tak kenal waktu, tak kenal layu. Terimakasih, sudah begitu kuat menjadi bahu yang kusandari setiap lelah; walaupun seringkali kau tak terlihat. Terimakasih sudah menjadi peluk yang begitu hangat, menjadi senyuman yang begitu tentram, menjadi kecup yang begitu lembut, menjadi genggam yang begitu...