Postingan

Masih

Aku adalah siku yang selalu berusaha menjangkaumu. Kau adalah hidung yang tak bisa kusentuh barang sejengkal pun. Ah, sayangku. Bagaimana mungkin aku protes kepada Tuhan, perihal kita yang berada pada satu tubuh tapi tak bisa saling menyentuh. Sedangkan berada dekat denganmu saja, bahagiaku hampir penuh. Kau adalah pualam yang tidur pulas di mangkuk bening. Aku adalah sepasang mata yang mengintaimu dari balik etalase tak berkunci. Aku ingin menjangkaumu, mengusap barang sekali saja. Tapi apalah yang bisa sepasang mata lakukan; selain mengamati dan mengintaimu diam-diam. Aku adalah gelas-gelas kaca berkaki satu. Kau adalah sebotol gendut anggur di perut meja. Aku menunggu sepasang tangan menuangkan kau ke pangkuanku, kemudian mereka bersulang dan membiarkanmu menari di pelukanku. Kemudian mereka menelanmu, juga menyesapku. Kita akan mati bersama, kemudian hidup kembali sebagai nafas bahagia orang-orang pirang di musim salju. Kau adalah phonograph tua, aku adalah piringan hitam ker...

Untuk Laki-laki yang Mencintai Biru

Karena walaupun mendung dan malam membawa langit berubah abu-abu bahkan hitam Ia akan tetap kembali biru; Dan kau mencintai itu Maka aku ingin menjadi langitmu saja Agar bisa menjadi biru-mu Agar selalu bisa memayungimu Agar sesekali bisa menyentuh dahi dan pipimu Lewat tetes gerimis yang lolos dari halauanmu Agar bisa merajuk padamu lewat guntur dan mengurungmu di barak seharian lewat hujan Aku ingin meneduhkanmu lewat mendung Memanjakanmu lewat pelangi Aku ingin memangkumu yang terlelap Ketika gelap adalah aku, ketika malam adalah aku Aku ingin memelukmu yang terjaga Ketika surya menembus tubuhku, ketika pagi adalah aku Aku ingin mengingatkanmu pulang, dengan aku sebagai senja Aku ingin mengingatkanmu bangun, dengan aku sebagai fajar Aku ingin mengingatkanmu untuk tetap mengingatku, dengan aku sebagai aku. Aku langitmu, aku mencintaimu:)

Perihal Menunggu dan Rindu

Pada akhirnya, aku kembali menjadi aku yang memaksa matahari turun lebih awal. Lekaslah malam, Tuhan. Lekaslah Sabtu.. Aku sudah menelan dua pagi tanpa selamat pagi darimu. Tapi kupastikan, aku selamat pagi ini, untuk tetap menunggumu pulang. Aku sudah terpejam dua malam tanpa selamat tidur darimu. Tapi kupastikan, tidurku selamat malam ini, untuk tetap berbicara denganmu di mimpiku. Sayang, rinduku serupa kilat yang tak mau mengalah pada deras hujan. Menyambar tapi tak bersuara, menjalar diam-diam panasnya. Tapi kupastikan, rinduku takkan membunuhmu. Tapi.. Terkadang rinduku liar serupa rumput di pekarangan, semakin waktu menginjak-injak helainya, semakin kuat akarnya. Tapi kupastikan, rinduku takkan menjeratmu. Tapi.. Seringkali rinduku tak tahu malu, melarikan diri dari awasku. Beriringan mengunjungi dan mengetuk jendela barakmu, minta diberi jalan masuk. Memelukmu, lewat dingin angin malam yang berebut lenganmu dengan selimut. Tapi kupastikan, rinduku takkan membekukanmu. ...

Telah Bangun

Bahagia pernah lebih nyata daripada ini. Dan datangmu lebih seperti fiksi, yang menimbunku di pertengahan buku. Seperti fiksi, yang tadinya kukira hanya ada di lembar-lembar huruf bisu. Tapi kau bukan tokoh yang kuciptakan sendiri, kau tak lahir dari imaji seorang gadis yang terobsesi menulis cerita hidupnya sendiri. Kau.... Seperti kado di pagi hari, seperti matahari yang membuatku sadar bahwa aku 'telah bangun'. Karena aku telah bangun, bukankah aku berkewajiban menyelesaikan hari ini? Maka kau; sebagai pemahat yang mematri senyum di sudut bibirku, sebagai bening embun yang memantulkan silau cahaya di mataku; Ikut bertanggungjawab. Karena kau telah membangunkanku, maka pandu langkahku sampai akhir, sampai kita sama-sama lelah dan beristirahat. Sampai malam mengganti pagi, memayungi mimpiku yang kusandarkan di bahumu. Sampai pagi kembali lagi, dan kau membangunkanku lagi. Jadi, sayang. Selama pagi belum lupa akan tugasnya memulai hari, jangan pernah lepaskan sayapku dari gen...

Dari Langit Menuju Bumi :)

Untuk langit, yang menjadi naungannya lebih dulu; sebelum aku. Cantik, apa kabar?                 Aku baik. Dia, genangan di telagaku; awanmu dulu, juga baik. Setelah dia kubawa pindah bersamaku, pasti kau merindukannya, kan?                 Dulu. Dulu sekali. Aku pernah sepertimu, menunggunya turun sesekali menyapaku. Lewat gerimis, dia mengunjungiku; sebagai seorang teman lama. Lewat gerimis, dia singgah tapi kemudian kembali menguap; kembali padamu. Kau memaksanya pulang, padahal aku masih kekeringan. Kau membawanya pulang, sebelum dahaga ladang dan haus di taman bungaku hilang.                 Hari itu, dia turun kepadaku sebagai hujan. Dia tergenang di mangkuk-mangkuk yang kusebar di pekarangan. Tak ingin kau menjemputnya lagi, kupindahkan dia k...

Beberapa yang terbaik dari yang terbaik :)

Gambar
                “Mereka adalah mataku, ketika lensa kacamataku retak sebelah. Mereka adalah tanganku, ketika telunjukku teriris dan susah menulis. Mereka adalah mulutku, ketika aku terlalu takut memberitahumu sesuatu. Lebih dari segalanya, mereka adalah airmataku; yang ikut jatuh bersamaku, dan untuk mereka lah, aku harus menjadi lebih kuat, lebih baik. Untuk mereka; agar mereka tak lagi ikut jatuh bersamaku” Rupanya, sahabat tak selalu tentang ‘iya’.                 Untuk lawan argumenku yang terkasih; yang seringkali membuatku berpikir berkali-kali ‘apa yang salah?’ ‘siapa yang salah?’. Ah, rencana Tuhan tak sesimpel naskah drama pagelaran, temanku. Untuk bisa saling mengasihi, kita butuh saling membenci.......diri sendiri lebih dulu.               ...

Penerjemahan yang gagal

Why fall in love if you can fall asleep? Ketika seseorang datang membawakanmu kebahagiaan, dan kau menerjemahkannya sebagai sebuah harapan. Saat itulah, kau telah menjerumuskan perasaanmu sendiri ke dalam angan-angan; tempat di mana tak pernah ada tangan-tangan yang menawaarkanmu bantuan untuk segera keluar. Karena beberapa orang memang senang berbuat baik, tanpa maksud mengajakmu menjadi bagian darinya. Dan, teruntuk orang yang senang menebar kebaikan. Ada baiknya dulu kau datang tanpa buah tangan. Karena beberapa orang tak biasa menganggap sesuatu yang indah sesederhana maksudmu. Dan untukku sendiri, barangkali lebih baik kucuci otakku dulu. Biar bersih dari pemikiran dungu, tentang kau satu-satunya yang bisa melihat aku begitu kecil tapi tetap tak pernah pergi. Baru saja kau ingin kuberitahu satu-dua harapan yang kutitipkan dibahumu, mungkin saja kau ingin mempercepat proses menjadikannya nyata. Tapi sedihku pagi tadi, rasanya setimpal karena aku lancang meminta hatimu setelah kau -...